Jaminan Allah

Pdt. Paulus Pujianto, M.Th | Ibadah Raya | Minggu, 15 Maret 2020

Yosua 1:1-9 (TJB)
1 Sesudah Musa hamba Tuhan itu mati, berfirmanlah Tuhan kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:
2 ”Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.
3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.
4 Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.
5 Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.
6 Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.
7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi.
8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.
9 Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi.”

Ibrani 7:22 (TJB)
demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat.

Kehidupan manusia sering kali dihadapkan pada fase transisi yang penuh misteri dan ketidakpastian. Ketika tiang-tiang penyangga yang selama ini dianggap kokoh tiba-tiba runtuh, kedukaan dan kecemasan kerap kali datang menyergap. Pengalaman iman inilah yang melatarbelakangi peralihan kepemimpinan bangsa Israel pasca-wafatnya Musa, sang hamba Tuhan. Kehilangan sosok pemimpin besar tentu memicu kegentaran yang masif bagi bangsa yang sedang bersiap merebut tanah perjanjian. Namun, di balik peristiwa tersebut, tersimpan sebuah pesan teologis yang sangat kuat: kematian hamba-Nya tidak pernah membatalkan rencana-Nya. Rencana Allah harus tetap berjalan (the show must go on).

Dalam momentum kritis itulah, Tuhan memanggil Yosua dan memberikan sebuah garansi mutlak yang tertulis dalam kitab Yosua 1:1-9. Melalui firman-Nya, Allah memperkenalkan diri-Nya bukan hanya sebagai pemberi janji, melainkan sebagai penjamin tunggal atas keberhasilan perjalanan hidup umat-Nya. Dalam teologi Perjanjian Baru, konsep jaminan ini disempurnakan di dalam surat Ibrani 7:22, yang menyatakan bahwa Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang jauh lebih kuat. Jaminan Allah bukanlah janji kosong tanpa dasar, melainkan keterikatan pribadi Allah yang menyerahkan diri-Nya sendiri sebagai taruhan bagi keselamatan dan pemeliharaan kita.


Makna Teologis Jaminan Allah

Mengapa Allah dipandang perlu memberikan jaminan bagi manusia? Berdasarkan kebenaran firman-Nya, terdapat tiga aspek esensial mengenai arti penting sebuah jaminan ilahi di dalam kehidupan praktis kita:

  1. Tanda Keseriusan Allah: Jaminan menunjukkan betapa seriusnya Tuhan terhadap janji-janji yang telah diucapkan-Nya. Dia bukan manusia yang mudah ingkar janji, melainkan Allah yang berdaulat atas kata-kata-Nya.
  2. Tanda Ikatan Perjanjian: Melalui jaminan, Allah dengan sukarela mengikatkan diri-Nya kepada kita. Ikatan ini bersifat legal-spiritual, di mana Allah menempatkan reputasi keluhuran-Nya sebagai jaminan keberlangsungan hidup kita.
  3. Garansi Pemulihan dan Ganti Baru: Layaknya sebuah jaminan komersial berkualitas tinggi yang menjanjikan penggantian penuh jika terjadi kerusakan, jaminan Allah memastikan bahwa kegagalan, kehancuran, maupun kedukaan yang kita alami akan digantikan dengan pemulihan yang utuh.

Bentuk jaminan tertinggi yang kita miliki saat ini di dalam Kristus disahkan melalui pemeteraian Roh Kudus. Sebagaimana tertulis dalam Efesus 1:14, Roh Kudus adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh penebusan yang seluruhnya. Kehadiran Roh Kudus di dalam hati setiap orang percaya menjadi bukti otentik kepemilikan Allah yang sah dan tak tergoyahkan.

Efesus 1:14 (TJB)
Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.


Empat Pilar Jaminan Ilahi

Lebih spesifik, firman Tuhan dalam Yosua 1:5 menjabarkan empat hal konkret yang dijaminkan Allah kepada setiap orang yang melangkah bersama-Nya:

  • Jaminan Kemenangan: “Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu.” Kalimat ini merupakan deklarasi jaminan kemenangan atas setiap musuh dan hambatan yang merintangi jalannya rencana Allah. Bersama Tuhan, kita diposisikan bukan sebagai korban, melainkan sebagai pemenang.
  • Jaminan Penyertaan: “Seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau.” Allah yang menyertai para pendahulu iman kita adalah Allah yang sama yang menyertai kita hari ini. Penyertaan-Nya bersifat konstan, tidak berkurang oleh perubahan generasi atau tantangan zaman.
  • Jaminan Pembelaan: “Aku tidak akan membiarkan engkau.” Jaminan ini memastikan bahwa di saat kita berada di titik terlemah sekalipun, kita tidak dibiarkan berjuang dengan kekuatan sendiri. Tangan kanan Tuhan yang adil senantiasa siap menopang.
  • Jaminan Kesetiaan: “Dan tidak akan meninggalkan engkau.” Ketika dunia dan manusia di sekitar kita mungkin mengecewakan atau meninggalkan kita, kesetiaan Allah tetap teguh untuk selamanya. Dia adalah Sahabat yang paling karib.


Respons Iman: Mengaktifkan Jaminan Allah

Meskipun jaminan Allah bersifat mutlak, manifestasi dari jaminan tersebut dalam kehidupan sehari-hari menuntut respons iman yang sinkron dari pihak manusia. Ada dua syarat penting yang harus kita penuhi agar jaminan tersebut berlaku aktif:

Pertama, Kuatkan dan Teguhkanlah Hatimu. Perintah ini diulang beberapa kali oleh Tuhan kepada Yosua. Menguatkan hati berarti menolak untuk dikuasai oleh ketakutan, kepanikan, atau kecemasan yang berlebihan. Iman yang teguh menjadi wadah yang siap menampung penggenapan janji Allah.

Kedua, Bertindaklah Hati-Hati dan Bijaksana. Iman sejati tidak pernah meniadakan akal sehat dan hikmat. Kita dituntut untuk hidup berhati-hati, taat pada firman Tuhan, serta melakukan apa yang menjadi bagian tanggung jawab kita sebagai manusia secara maksimal. Di tengah situasi yang sukar atau mengancam, kita wajib mengikuti instruksi yang benar dan menjaga diri dengan bijaksana. Setelah seluruh tanggung jawab kemanusiaan kita lakukan dengan penuh kehati-hatian, barulah kita dapat memercayakan hal-hal yang berada di luar kendali kita kepada perlindungan jaminan Allah.

Kesimpulan: Hiduplah dengan tenang dan penuh keberanian. Ketika Allah menjadi penjamin hidup kita, maka hari esok tidak lagi menjadi hal yang menakutkan, melainkan sebuah kepastian kemenangan di dalam Dia.