BBM Bagi Orang Percaya

Pdt. Paulus Pujianto, M.Th | Ibadah Raya | Minggu, 30 Agustus 2026

Ketika mendengar singkatan BBM, pikiran kita sering kali tertuju pada bahan bakar minyak atau harga kebutuhan pokok yang kian menanjak. Tantangan ekonomi, kemajuan teknologi yang menekan lapangan pekerjaan, hingga berbagai krisis kehidupan kerap membuat banyak orang hidup dalam kecemasan. Namun, firman Tuhan menegaskan bahwa musim dunia tidak menentukan musim hidup orang percaya. Di tengah situasi dunia yang serba sulit, Tuhan menyediakan BBM surgawi yang menjadi kebutuhan hakiki setiap orang beriman: Berkat, Bahagia, dan Mukjizat.

Kejadian 26:1-29 (TJB)
1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. – Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin.
2 Lalu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman: ”Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu.
3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.
4 Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat,
5 karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.”
6 Jadi tinggallah Ishak di Gerar.
7 Ketika orang-orang di tempat itu bertanya tentang isterinya, berkatalah ia: ”Dia saudaraku,” sebab ia takut mengatakan: ”Ia isteriku,” karena pikirnya: ”Jangan-jangan aku dibunuh oleh penduduk tempat ini karena Ribka, sebab elok parasnya.”
8 Setelah beberapa lama ia ada di sana, pada suatu kali menjenguklah Abimelekh, raja orang Filistin itu dari jendela, maka dilihatnya Ishak sedang bercumbu-cumbuan dengan Ribka, isterinya.
9 Lalu Abimelekh memanggil Ishak dan berkata: ”Sesungguhnya dia isterimu, masakan engkau berkata: Dia saudaraku?” Jawab Ishak kepadanya: ”Karena pikirku: Jangan-jangan aku mati karena dia.”
10 Tetapi Abimelekh berkata: ”Apakah juga yang telah kauperbuat ini terhadap kami? Mudah sekali terjadi, salah seorang dari bangsa ini tidur dengan isterimu, sehingga dengan demikian engkau mendatangkan kesalahan atas kami.”
11 Lalu Abimelekh memberi perintah kepada seluruh bangsa itu: ”Siapa yang mengganggu orang ini atau isterinya, pastilah ia akan dihukum mati.”
12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati Tuhan.
13 Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.
14 Ia mempunyai kumpulan kambing domba dan lembu sapi serta banyak anak buah, sehingga orang Filistin itu cemburu kepadanya.
15 Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah.
16 Lalu kata Abimelekh kepada Ishak: ”Pergilah dari tengah-tengah kami sebab engkau telah menjadi jauh lebih berkuasa dari pada kami.”
17 Jadi pergilah Ishak dari situ dan berkemahlah ia di lembah Gerar, dan ia menetap di situ.
18 Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya.
19 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya.
20 Lalu bertengkarlah para gembala Gerar dengan para gembala Ishak. Kata mereka: ”Air ini kepunyaan kami.” Dan Ishak menamai sumur itu Esek, karena mereka bertengkar dengan dia di sana.
21 Kemudian mereka menggali sumur lain, dan mereka bertengkar juga tentang itu. Maka Ishak menamai sumur itu Sitna.
22 Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, dan ia berkata: ”Sekarang Tuhan telah memberikan kelonggaran kepada kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.”
23 Dari situ ia pergi ke Bersyeba.
24 Lalu pada malam itu Tuhan menampakkan diri kepadanya serta berfirman: ”Akulah Allah ayahmu Abraham; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu karena Abraham, hamba-Ku itu.”
25 Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan memanggil nama Tuhan. Ia memasang kemahnya di situ, lalu hamba-hambanya menggali sumur di situ.
26 Datanglah Abimelekh dari Gerar mendapatkannya, bersama-sama dengan Ahuzat, sahabatnya, dan Pikhol, kepala pasukannya.
27 Tetapi kata Ishak kepada mereka: ”Mengapa kamu datang mendapatkan aku? Bukankah kamu benci kepadaku, dan telah menyuruh aku keluar dari tanahmu?”
28 Jawab mereka: ”Kami telah melihat sendiri, bahwa Tuhan menyertai engkau; sebab itu kami berkata: baiklah kita mengadakan sumpah setia, antara kami dan engkau; dan baiklah kami mengikat perjanjian dengan engkau,
29 bahwa engkau tidak akan berbuat jahat kepada kami, seperti kami tidak mengganggu engkau, dan seperti kami semata-mata berbuat baik kepadamu dan membiarkan engkau pergi dengan damai; bukankah engkau sekarang yang diberkati Tuhan.”


Belajar dari kehidupan Ishak di tanah Gerar pada Kejadian 26 di atas, ada tiga pilar utama yang perlu kita pegang:


1. Berkat: Taat Dulu, Berkat Menyusul

Ketika kelaparan melanda negeri, Ishak tidak melarikan diri ke Mesir dengan kekuatannya sendiri, melainkan taat tinggal di tempat yang Tuhan tunjukkan (Kejadian 26:2–3). Di masa paceklik yang secara logika tidak memungkinkan untuk bercocok tanam, Ishak tetap menabur. Hasilnya, ia menuai seratus kali lipat pada tahun itu juga karena Tuhan memberkatinya (Kejadian 26:12).

Berkat bukanlah hadiah pasif, melainkan buah dari ketaatan. Menaburlah dan kerjakan bagian kita dengan tekun, maka Tuhan yang berdaulat akan mengerjakan bagian-Nya.


2. Bahagia: Menjaga Hati dan Mengutamakan Damai

Kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh situasi di luar, melainkan oleh kondisi di dalam hati kita (Amsal 4:23). Orang yang kaya materi sekalipun tidak akan berbahagia bila hatinya terus dipenuhi kekhawatiran dan perselisihan. Ketika sumur-sumur yang digali Ishak direbut oleh orang Filistin, Ishak memilih untuk mengalah dan tidak membalas kejahatan demi menjaga damai sejahtera (Roma 12:18). Sikap ini membimbing Ishak hingga tiba di Rehobot—tempat di mana Tuhan memberikan kelegaan dan kelapangan.

Jangan habiskan sisa umur dan energi kita untuk konflik dan membalas perlakuan orang lain. Ingatlah: orang lain mungkin bisa merebut berkat kita, tetapi mereka tidak akan pernah bisa merebut Sang Sumber Berkat dari hidup kita.


3. Mukjizat: Hadir Melalui Penyertaan Tuhan

Di luar nalar manusia, Raja Abimelekh yang sebelumnya menolak Ishak justru datang sendiri untuk mengikat perjanjian damai, sebab mereka melihat nyata bahwa Tuhan menyertai Ishak (Kejadian 26:28).

Mukjizat bukan semata-mata soal kesembuhan jasmani atau keajaiban fisik, melainkan ketika:

  • Hati yang keras dilembutkan,
  • Musuh diubahkan menjadi kawan yang menghormati iman kita,
  • Pintu-pintu kesempatan yang tertutup dibukakan kembali oleh tangan Tuhan yang tak kelihatan.


Bagaimana Kita Menghidupi BBM Setiap Hari?

  1. Membangun Persekutuan yang Intim dengan Tuhan: Jangan mendekat kepada Tuhan hanya saat memerlukan pertolongan; bangun relasi yang tulus setiap hari.
  2. Bekerja Cerdas dan Setia: Bekerja keras adalah keharusan, namun kecerdasan dan hikmat ilahi yang disertai kesetiaan akan menghasilkan buah yang manis.
  3. Mengandalkan Tuhan Melampaui Logika: Tundukkan kalkulasi akal budi di bawah kehendak serta arahan firman-Nya.

“Fokuslah mencari Sang Sumber Berkat, bukan hanya mengejar berkat-Nya. Ketika hidup kita berkenan kepada-Nya, berkat, kebahagiaan, dan mukjizat akan menyertai langkah hidup kita.”