Pdt. Suliani | Ibadah Raya | Minggu, 23 Agustus 2026
Kita akan belajar bersama dari kisah “Angin Ribut Diredakan” yang tertulis di Alkitab pada kitab Markus 4:35-41.
Markus 4:35-41 (TJB)
35 Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: ”Marilah kita bertolak ke seberang.”
36 Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia.
37 Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air.
38 Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: ”Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”
39 Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: ”Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
40 Lalu Ia berkata kepada mereka: ”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”
41 Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: ”Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Rencana Manusia dan Realitas Badai Kehidupan
Hari itu, ketika hari sudah petang, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk bertolak ke seberang. Sebagai manusia 100%, Yesus yang telah seharian aktif melayani orang banyak juga merasakan lelah dan membutuhkan istirahat. Murid-murid pun meninggalkan orang banyak dan membawa Yesus serta di dalam perahu.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali menyusun berbagai rencana: planning A, planning B, planning C, hingga planning D. Kita merencanakan masa depan pendidikan anak, berdiskusi dengan pasangan untuk membeli rumah, hingga merencanakan usaha yang baik. Murid-murid pun berpikir perjalanan menyeberangi Danau Galilea—yang terkenal indah, dikelilingi bukit-bukit, dan berangin sejuk—akan berjalan lancar dan menjadi momen untuk beristirahat.
Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba mengamuklah taufan yang sangat dahsyat. Ombak menyembur masuk hingga perahu mulai penuh dengan air.
Kepekaan Menghadapi Gejolak Dunia
Murid-murid Yesus sebenarnya adalah orang-orang yang sangat peka dengan keadaan di sekitar Danau Galilea karena mayoritas dari mereka adalah nelayan yang besar dan berpengalaman di tempat tersebut. Namun, saat itu mereka merasakan sesuatu yang berbeda—ombak, angin, dan badainya tidak seperti biasanya.
Begitu pula dengan kehidupan kita saat ini. Kita hidup di tengah dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Berita-berita hari ini diwarnai dengan kondisi ekonomi yang berat, krisis, bencana alam seperti kebakaran hutan di Kalimantan, hingga gempa bumi dahsyat di berbagai daerah.
Kepanikan hari-hari ini nyata dirasakan banyak orang:
- Penurunan omset usaha yang drastis hingga ancaman kebangkrutan.
- Hubungan keluarga, suami-istri, atau orang tua dan anak yang retak dan tidak harmonis.
- Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kesulitan mencari pekerjaan.
- Beban finansial rutin seperti biaya listrik, air, dan kebutuhan hidup yang terus berputar di dalam pikiran bahkan saat baru bangun tidur.
Respons Manusia di Tengah Badai vs. Kedaulatan Tuhan
Dalam kondisi panik dan merasa terancam binasa, murid-murid membangunkan Yesus yang sedang tidur di buritan beralaskan sebuah tilam. Dengan nada panik mereka berseru, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”
Yesus pun bangun, lalu menghardik angin dan berkata kepada danau, “Diam, tenanglah!” Seketika itu juga angin reda dan danau menjadi teduh sekali. Yesus kemudian menegur murid-murid-Nya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Murid-murid menjadi sangat takjub dan bertanya-tanya, siapa gerangan orang ini sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya.
Kisah ini meneguhkan kita bahwa sering kali kita mencari kenyamanan duniawi dan menabrak berbagai keadaan tanpa berpegang pada firman Tuhan. Padahal, yang paling utama dalam hidup bukanlah ketiadaan masalah, melainkan kehadiran Yesus. Kehadiran-Nya lah yang memegang kendali atas segala keadaan, seburuk apapun badai dan ombak yang menerpa.
Refleksi dan Pesan Iman
- Yesus Tidak Pernah Tidur: Di tengah badai dan ombak kehidupan, Yesus tahu persis apa yang sedang terjadi. Ia bukan berarti diam atau tidak peduli, melainkan Ia rindu agar kita menaruh kepercayaan penuh (bukan setengah-setengah atau kurang percaya) kepada-Nya.
- Kesempatan Mengenal Tuhan: Tantangan dan rintangan bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita, melainkan sebuah kesempatan emas untuk mengenal kuasa Yesus secara nyata di tengah badai.
- Keamanan Sejati di Dalam Tuhan: Kita tidak akan pernah merasa aman hanya karena memiliki tabungan, deposito, materi yang banyak, atau posisi pekerjaan yang mapan. Keamanan yang sejati hanya ada karena Yesus selalu beserta kita—baik di waktu sehat maupun sakit, di kala lapang maupun dalam pergumulan.
