Kasih Allah yang Menyelamatkan

Pdt. Paulus Pujianto, M.Th | Ibadah Jumat Agung | Jumat, 10 April 2020

Perayaan Jumat Agung selalu menjadi momen krusial bagi umat Kristiani untuk merenungkan kembali esensi terdalam dari iman mereka. Melalui landasan teologis dari Kitab Nabi Yesaya 53:3-5 (TJB), kita diajak menatap kembali kepada figur Kristus yang dinubuatkan sebagai seorang yang penuh kesengsaraan, dihina, dan dihindari orang. Namun, di balik penderitaan jasmani dan penolakan sosial yang tragis tersebut, tersimpan sebuah rancangan agung yang digerakkan oleh satu motivasi tunggal, yaitu kasih Allah yang menyelamatkan manusia dari kebinasaan.

Yesaya 53:3-5 (TJB)
3 Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.
4 Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.
5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.


Rancangan Kebaikan di Balik Tiap Peristiwa

Sejak manusia pertama jatuh ke dalam dosa, sejarah mencatat bahwa penderitaan, kesusahan, sakit penyakit, hingga kematian menjadi konsekuensi mutlak yang tidak terelakkan. Secara hukum ilahi, upah dosa adalah maut, dan setiap manusia sepantasnya menerima penghukuman tersebut. Kendati demikian, keadilan Allah tidak berjalan tanpa didampingi oleh rahmat-Nya. Sejak awal mula kejatuhan tersebut, Allah justru merajut sebuah rancangan kebaikan yang panjang melalui karya keselamatan yang digenapi secara sempurna dalam pribadi Yesus Kristus melalui peristiwa salib.

Pengorbanan Kristus di Bukit Golgota sering kali disalahpahami oleh dunia; banyak orang pada masa itu mengira Dia sedang terkena tulah, dipukul, dan ditindas oleh Allah karena kesalahan-Nya sendiri. Namun, kebenaran firman Tuhan menegaskan bahwa Dia tertikam oleh karena pemberontakan manusia dan diremukkan akibat kejahatan umat-Nya. Ganjaran yang mendatangkan keselamatan total ditimpakan seluruhnya kepada-Nya, dan melalui bilur-bilur-Nya yang berdarah, manusia beroleh kesembuhan rohani serta pemulihan hubungan dengan Sang Pencipta.

Prinsip teologis ini memberikan perspektif baru bagi umat dalam menghadapi realitas masa-masa sulit, termasuk saat badai kehidupan global atau krisis kesehatan melanda. Di tengah ketakutan dan kecemasan yang masif, peristiwa-peristiwa sukar tersebut sering kali menjadi cara Allah untuk menyadarkan keterbatasan manusia. Melalui masa ujian, banyak orang akhirnya kembali berlutut, mencari wajah Tuhan, dan mengalihkan pengharapan mereka dari kekuatan duniawi kepada kedaulatan Allah sang penguasa jagat raya.


Kepastian Kasih yang Tak Terbatas

Selanjutnya, yang menjadi inti dari pesan Jumat Agung ini adalah jaminan kepastian kasih Allah. Dalam Kitab Roma 8:32 (TJB) tertulis sebuah retorika iman yang sangat menguatkan:

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Ketika beban hidup terasa begitu menindas, ingatan akan salib Kristus bertindak sebagai jangkar jiwa. Kasih yang telah menyerahkan segalanya di masa lalu adalah kasih yang sama yang bekerja untuk menopang kehidupan umat di masa sekarang. Kehadiran Tuhan di dalam penderitaan memberikan kekuatan supranatural, memampukan setiap pribadi untuk melewati masa-masa krisis, bahkan membawa mereka keluar sebagai pemenang dalam iman.


Allah Sebagai Pembela Agung Umat-Nya

Dari firman yang disampaikan, kita diingatkan akan posisi mereka sebagai orang-orang pilihan yang telah dibenarkan. Melalui kebangkitan-Nya, Kristus kini duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan terus-menerus bertindak sebagai Pembela agung bagi kita. Berdasarkan Roma 8:31, kita mendapati sebuah janji jaminan: “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” Jika Allah sendiri yang berdiri di pihak kita dan menyatakan pembenaran-Nya, maka tidak ada satu kuasa pun di bumi maupun di bawah bumi yang dapat menggugat atau menjatuhkan hukuman yang membinasakan.

Namun, iman yang sejati tidak hanya berhenti pada keyakinan batiniah, melainkan mewujud dalam tindakan nyata di dunia. Sembari menaruh kepercayaan penuh pada pembelaan dan perlindungan supranatural dari Allah, umat juga dipanggil untuk melakukan tanggung jawab praktis mereka secara bijak di bumi, termasuk menjaga kesehatan, menaati otoritas pemerintah, serta menerapkan kasih kepada sesama.

Respons terbaik umat di hadapan kasih yang menyelamatkan ini adalah dengan menanggalkan segala kecemasan, mendekatkan diri sedekat mungkin ke dalam dekapan-Nya, dan terus meluapkan ucapan syukur di setiap musim kehidupan. Di dalam perlindungan Sang Pembela, senantiasa tersedia ketenangan sejati yang tidak mampu ditawarkan oleh dunia. Apapun yang terjadi hari-hari ini, tidak akan pernah ada satu perkara pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah yang ada di dalam Kristus Yesus.