Pemberian Terbaik

Pdt. Paulus Pujianto, M.Th | Ibadah Natal | Selasa, 24 Desember 2019

Ada dua kemungkinan mengapa seseorang bingung menentukan pemberian terbaik: pertama karena belum mengerti maksudnya, dan kedua karena sudah mengerti tetapi belum menemukan ide konkretnya.

Yohanes 3:16 (TJB)
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.


3 Kriteria Pemberian Terbaik Menurut Teladan Allah

Merujuk pada pengorbanan Allah bagi manusia, terdapat tiga kriteria utama agar sebuah pemberian dapat dikategorikan sebagai yang “terbaik” di hadapan Tuhan:

  1. Dilandasi oleh Kasih (Driven by Love)
    Pemberian terbaik tidak diukur dari nilai materinya, melainkan dari motivasi yang mendorongnya.
    • Tanpa Kasih, Sia-sia: Merujuk pada 1 Korintus 13:1, segala perbuatan hebat, pelayanan, bahkan karunia bahasa malaikat sekalipun akan menjadi seperti gong yang berkumandang jika tidak disertai kasih.
    • Dikenal oleh Allah: Di dalam 1 Korintus 8:3 disebutkan bahwa “orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.” Pelayanan atau pemberian yang tidak didasari kasih sejati tidak akan bernilai di mata Tuhan.
    • Teladan Allah: Allah memberikan Anak-Nya karena “begitu besar kasih Allah akan dunia ini“. Natal adalah perwujudan kasih yang nyata, bukan sekadar seremonial.
  2. Diberikan Sepenuh Hati (All Out)
    Allah tidak pernah memberikan yang setengah-setengah. Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal—artinya, seluruhnya dan tidak ada cadangan lain.
    • Segenap Hati: Sesuai dengan Kolose 3:23, jemaat diajak untuk melakukan segala sesuatu dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
    • Bukan Sisa-sisa: Seringkali dalam aksi sosial kita cenderung memberikan barang yang sudah tidak kita pakai lagi. Namun, pemberian terbaik menuntut kita untuk memberikan yang terbaik yang kita miliki, bukan sekadar sisa-sisa.
  3. Pemberian yang Berdampak (Impactful)
    Pemberian terbaik dari Allah membawa dampak yang luar biasa, yaitu keselamatan kekal bagi setiap orang yang percaya, sehingga mereka tidak binasa.
    • Berdampak pada Hati: Pemberian yang terbaik akan membekas dan berdampak mendalam di dalam hati, bukan sekadar di pikiran yang mudah lupa.
    • Belajar dari Perempuan yang Mengurapi Yesus: Merujuk pada Markus 14:3-9, tindakan perempuan yang memecahkan minyak narwastu mahal seharga 300 dinar dianggap pemborosan oleh manusia, namun dianggap sangat indah oleh Yesus karena berdampak bagi penguburan-Nya dan terus diingat di mana pun Injil diberitakan.

1 Korintus 13:1 (TJB)
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

1 Korintus 8:3 (TJB)
Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.

Kolose 3:23 (TJB)
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Markus 14:3-9 (TJB)
3 Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus.
4 Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: ”Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?
5 Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu.
6 Tetapi Yesus berkata: ”Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.
7 Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.
8 Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku.
9 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.”


Pemberian Terbaik Menuntut Pengorbanan!

2 Samuel 24:24 (TJB)
Tetapi berkatalah raja kepada Arauna: ”Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” Sesudah itu Daud membeli tempat pengirikan dan lembu-lembu itu dengan harga lima puluh syikal perak.

Sebuah prinsip dari kisah Raja Daud yang tertulisa dalam 2 Samuel 24:24, dimana Daud ingin mendirikan mezbah dan ditawari tanah serta lembu secara gratis oleh Arauna, Daud menolaknya dengan tegas:

Bukan begitu, melainkan aku mau membelinya daripadamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.

Pemberian terbaik kepada Allah tidak pernah gratis, melainkan selalu mengandung pengorbanan. Pengorbanan tersebut bisa berupa waktu, ruang, perasaan, atau kenyamanan pribadi demi mendahulukan kehendak Tuhan. Allah tidak membutuhkan uang kita, karena Dialah pemilik segalanya, tetapi yang Allah inginkan adalah hati kita.

Biarlah momen Natal ini tidak berlalu sebagai sekadar pesta pora atau perayaan seremonial, melainkan menjadi momen di mana kita menyerahkan hati kita sepenuhnya sebagai persembahan terbaik dan hidup di dalam kebenaran-Nya.

Selamat Natal 2019, Tuhan Yesus memberkati kita semua. Immanuel!