Dewasa Di Dalam Kristus

Pdt. Simon Cecep Soeparman | Ibadah Raya | Minggu, 09 Agustus 2026

Kolose 4:12-13 (TJB)
12 Salam dari Epafras kepada kamu; ia seorang dari antaramu, hamba Kristus Yesus, yang selalu bergumul dalam doanya untuk kamu, supaya kamu berdiri teguh, sebagai orang-orang yang dewasa dan yang berkeyakinan penuh dengan segala hal yang dikehendaki Allah. 
13 Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang dia, bahwa ia sangat bersusah payah untuk kamu dan untuk mereka yang di Laodikia dan Hierapolis.

Roma 8:29 (TJB)
Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

Kedewasaan rohani merupakan sebuah tujuan mutlak bagi setiap orang percaya. Di tengah dunia yang dipenuhi dengan berbagai tantangan, nilai-nilai duniawi, serta pengaruh modernitas yang kian menggeser esensi kebenaran, gereja dipanggil untuk tidak sekadar bertumbuh secara fisik atau usia, melainkan bertumbuh secara penuh menuju rupa Kristus.


1. Memahami Arti Kedewasaan Rohani (Teleios)

Berdasarkan surat Kolose 4:12-13, Epafras digambarkan sebagai hamba Kristus yang senantiasa bergumul dalam doa agar jemaat berdiri teguh sebagai orang-orang yang dewasa dan memiliki keyakinan penuh dengan segala yang dikehendaki Allah. Dalam bahasa Yunani, kedewasaan rohani disebut Teleios, yang berarti sempurna, utuh di segala aspek (tubuh, jiwa, roh), serta memiliki kepenuhan karakter Kristus.

Sebaliknya, Alkitab menentang kondisi kekanak-kanakan rohani atau duniawi (disebut Nepios atau Sarkinos), yaitu kondisi di mana seseorang sudah lama menjadi Kristen namun masih dikuasai oleh kebiasaan kekanak-kanakan, egois, mudah diombang-ambingkan, dan belum matang dalam meresponi kebenaran firman Tuhan.


2. Tiga Rahasia Menjadi Orang Kristen yang Dewasa

Untuk mencapai kedewasaan rohani, prosesnya tidak terjadi secara otomatis layaknya proses bertambahnya umur biologis. Ada tiga prinsip utama yang harus dikerjakan dalam kehidupan setiap orang percaya:

  1. Menjadi Dewasa Dibutuhkan Pergumulan yang Serius
    Kedewasaan menuntut ketekunan dan kerja keras rohani (agonisomai). Sebagaimana seorang atlet berlatih keras atau ulat yang berjuang keluar dari kepompongnya, orang percaya harus bersedia melepaskan keterikatan duniawi dan memprioritaskan kehendak Tuhan di atas segalanya. Pergumulan doa yang sungguh-sungguh adalah kunci utama dalam membangun ketahanan iman.
  2. Menjadi Dewasa Dimulai dari Perubahan Pikiran (Mindset)
    Transformasi rohani tidak dapat dilepaskan dari pembaharuan budi. Pola pikir duniawi yang berpusat pada diri sendiri harus diubahkan oleh Roh Kudus melalui perenungan firman Tuhan secara konsisten. Orang dewasa secara rohani mampu membedakan mana kehendak Allah yang baik, berkenan, dan sempurna dalam setiap langkah hidupnya.
  3. Menjadi Dewasa Ditentukan oleh Pilihan-Pilihan Hidup
    Kedewasaan diuji melalui keputusan harian yang kita ambil. Sering kali, melakukan kehendak Tuhan menuntut pengorbanan dan penderitaan (seperti teladan iman para rasul dan tokoh-tokoh Alkitab). Namun, setiap pilihan untuk taat di dalam kebenaran Tuhan adalah kasih karunia yang mendatangkan kebaikan dan mendewasakan karakter kita.


Pemuridan sejati bermuara pada pembentukan karakter Kristus di dalam diri kita. Mari terus meresponi anugerah keselamatan dari Tuhan dengan tekun berjalan di dalam proses pemuridan, sehingga hidup kita senantiasa memuliakan nama-Nya di tengah dunia.