Iman yang Tak Terguncangkan

Ev. Santy, S.Th, S.Pd.K | Ibadah Raya | Minggu, 28 Juni 2026


Kehidupan kerohanian seorang orang percaya sering kali diuji bukan saat semua keadaan berjalan dengan baik, lancar, dan penuh kelimpahan. Ujian sejati dari sebuah iman justru muncul ketika badai persoalan, keterpurukan ekonomi, ataupun penderitaan fisik datang bertubi-tubi tanpa ada tanda-tanda kapan akan berakhir. Melalui teladan firman Tuhan dan kesaksian nyata, kita diajak untuk memahami esensi dari iman yang tak terguncangkan.


Meneladani Kesetiaan Ayub dalam Ujian

Di dalam Kitab Ayub 1:6-11, Alkitab mencatat dengan sangat jelas bagaimana Ayub dikenal sebagai sosok yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Namun, kesalehan tersebut tidak membuat Ayub luput dari ujian. Iblis mencoba mengguncang iman Ayub dengan merenggut seluruh harta bendanya, kesehatan fisiknya, bahkan anak-anak yang sangat dikasihinya. Strategi iblis adalah membuktikan bahwa manusia hanya akan menyembah Tuhan ketika hidupnya diberkati.

Ayub 1:6-11 (TJB)
6 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan dan di antara mereka datanglah juga Iblis.
7 Maka bertanyalah Tuhan kepada Iblis: ”Dari mana engkau?” Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: ”Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.”
8 Lalu bertanyalah Tuhan kepada Iblis: ”Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.”
9 Lalu jawab Iblis kepada Tuhan: ”Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah?
10 Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.
11 Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.”

Namun, Ayub membuktikan sebaliknya. Iman yang tak terguncangkan adalah iman yang tetap memilih untuk menyembah Tuhan sekalipun tidak memiliki apa-apa. Di tengah kehilangan yang begitu dahsyat, Ayub tidak mengutuki Allah. Ini menjadi teguran keras bagi kita di zaman modern, di mana manusia begitu mudah mengeluh dan bersungut-sungut hanya karena persoalan-persoalan materi atau tekanan hidup yang dihadapinya.


Kesaksian di Lembah Kekelaman: Kanker Stadium 3B

Pengalaman iman yang radikal ini juga dialami secara pribadi oleh Ev. Santy ketika didiagnosis menderita kanker payudara stadium 3B pada tahun 2022. Sebagai seorang hamba Tuhan yang telah menyerahkan hidupnya sejak lulus SMA untuk bersekolah Alkitab dan melayani bersama suaminya, Pdt. Redikon Sidabalok, pertanyaan manusiawi sempat muncul: “Tuhan, mengapa harus saya? Saya sudah hidup benar dan melayani-Mu.”

Yohanes 9:3 (TJB)
Jawab Yesus: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.

Melalui ayat tersebut, Tuhan memulihkan cara pandang beliau. Penderitaan yang diizinkan terjadi bukanlah bentuk hukuman, melainkan sebuah panggung di mana kuasa Allah hendak dinyatakan. Selama menjalani proses medis yang sangat berat di RS Darmais, termasuk 6 kali kemoterapi yang merontokkan seluruh rambutnya serta 16 kali radiasi, Ev. Santy dan suami memilih untuk tidak fokus pada penyakit mereka. Sebaliknya, mereka menjadikan masa-masa sulit itu sebagai ladang misi untuk mendoakan pasien-pasien lain dan berhasil menuntun tiga jiwa baru menerima Tuhan Yesus.


Kuasa Sempurna di Balik Kelemahan

Sejarah gereja dan Alkitab mencatat banyak tokoh yang imannya bersinar justru di tengah keterbatasan. Fanny Crosby, yang mengalami kebutaan permanen sejak usia enam minggu akibat kesalahan medis, tidak pernah menyalahkan keadaan ataupun dokter yang merawatnya. Dari kegelapan fisiknya, lahir lebih dari 8.000 lagu pujian yang memberkati jutaan umat manusia di seluruh dunia.

Demikian pula Rasul Paulus, yang memohon tiga kali agar “duri dalam daging” dalam tubuhnya diangkat oleh Tuhan. Namun, jawaban Tuhan sangatlah indah: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Korintus 12:9 TJB). Kelemahan fisik atau situasi yang buruk bukanlah penghalang bagi bekerjanya kuasa Allah, melainkan wadah yang paling tepat untuk menampilkan kemuliaan Kristus.


Menjaga Pikiran dan Tetap Bersyukur

Salah satu poin penting dalam mempertahankan iman adalah dengan menjaga pikiran agar tetap positif dan selaras dengan firman Tuhan. Pikiran negatif memiliki daya rusak yang nyata bagi kehidupan fisik dan rohani seseorang. Kita harus senantiasa mengisi pikiran dengan hal-hal yang suci, adil, dan sedap didengar.

Iman yang tertinggi diekspresikan melalui ucapan syukur (Efesus 5:20). Bersyukur di tengah musibah bukanlah tindakan menyukuri penderitaan itu sendiri, melainkan sebuah deklarasi iman bahwa Tuhan tetap berdaulat, memegang kendali penuh, dan selalu merancangkan kebaikan di akhir segala sesuatu.


Tiga Pilar Iman yang Tak Terguncangkan

  1. Ditempa dalam Api: Menerima setiap ujian hidup bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai proses pemurnian karakter dan iman agar menjadi murni seperti emas.
  2. Ditopang oleh Anugerah: Menyadari dan bersandar penuh bahwa di titik terlemah manusia, di situlah anugerah dan kuasa Tuhan bekerja dengan paling sempurna.
  3. Diekspresikan Melalui Ucapan Syukur: Tetap mendeklarasikan kebaikan dan kedaulatan Tuhan atas segala situasi, baik dalam suka maupun duka.

Mari kita terus berdiri teguh di akhir zaman ini. Apapun “padang gurun” atau “lembah kekelaman” yang sedang kita lalui saat ini, tetaplah setia mengikut Tuhan Yesus. Percayalah, mukjizat-Nya dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya tidak pernah berubah. Tuhan Yesus memberkati.