Pdt. Paulus Pujianto, M.Th | Ibadah Kenaikan Yesus | Kamis, 14 Mei 2026
Esensi Kenaikan Kristus dan Karya-Nya yang Terus Berjalan
Peringatan kenaikan Yesus Kristus ke Surga bukanlah sebuah perayaan seremonial biasa, melainkan sebuah deklarasi kemenangan total Allah atas maut serta jaminan kepastian akan kedatangan-Nya kembali. Kenaikan Kristus tidak berarti Dia meninggalkan umat-Nya begitu saja tanpa tujuan. Sebaliknya, kepergian-Nya ke Surga justru dilakukan demi kepentingan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Jika selama di dunia Kristus berkarya menyelesaikan misi penyelamatan manusia melalui pengorbanan di kayu salib, maka di Surga pun saat ini Ia tidak tinggal diam.
Kisah Para Rasul 1:9-11 (TJB)
9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.
10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka,
11 dan berkata kepada mereka: ”Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”
Kisah Para Rasul 3:19-21 (TJB)
19 Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,
20 agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus.
21 Kristus itu harus tinggal di sorga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu.
Berdasarkan pembacaan kedua ayat di atas, ditegaskan bahwa Kristus harus tinggal di Surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu tiba.
1. Kristus Naik ke Surga sebagai Raja yang Memerintah
Kenaikan Yesus merupakan sebuah deklarasi bertakhtanya kembali Sang Raja dalam kemuliaan yang sempurna. Melalui otoritas ini, umat beriman diingatkan bahwa:
- Kuasa Tertinggi di Atas Segalanya: Mengutip dari Efesus 1:20-22, Kristus didudukkan di sebelah kanan Allah, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah, penguasa, dan kuasa kegelapan. Iblis tidak lagi memegang kendali tertinggi.
- Kendali di Tengah Krisis Dunia: Sekalipun situasi dunia terasa semakin sulit, baik karena faktor ekonomi, peperangan yang berkepanjangan, maupun pergumulan keluarga, Tuhan tetap memegang kendali penuh. Tidak ada satu pun musim kehidupan umat-Nya yang luput dari pengawasan dan kedaulatan tahta Surga.
Efesus 1:20-22 (TJB)
20 yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga,
21 jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang.
22 Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.
2. Kristus Menjadi Pengantara dan Pembela yang Sempurna
Di surga, Yesus memegang posisi strategis sebagai pendoa syafaat dan pembela bagi kepentingan hidup umat-Nya.
- Menghadapi Intimidasi di Alam Roh: Ketika iblis mencoba mengintimidasi, menuduh, atau membuat orang percaya merasa lemah dan kecil hati, Yesus berdiri di hadapan Bapa sebagai pembela yang siap menopang dan mendengar doa-doa kita.
- Kesetiaan Tuhan yang Tidak Pernah Menyerah: Melalui kisah nyata seorang ibu di Korea Selatan yang bertahun-tahun mendoakan anaknya yang terjerat narkoba dan kriminalitas di penjara, cerita ini mengilustrasikan bagaimana doa yang tekun digerakkan oleh keyakinan bahwa Yesus terus bekerja di Surga. Roh Kudus menjamah hati sang anak di dalam penjara hingga bertobat total dan hidupnya dipulihkan menjadi pelayan Tuhan. Ketika manusia sudah menyerah, Kristus terbukti tidak pernah menyerah.
3. Kristus akan Datang Kembali untuk Pemulihan Segala Sesuatu
Saat ini dunia berada pada masa peralihan antara kenaikan Kristus dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Penundaan kedatangan-Nya bukanlah kelalaian, melainkan bukti kesabaran Allah agar tidak ada satu pun jiwa yang binasa.
- Menjadi Kawan Sekerja Allah: Sembari menanti kedatangan-Nya, umat Tuhan dipanggil untuk menjadi agen-agen pemulihan di bumi, memulihkan hubungan yang hancur, merangkul generasi muda yang rusak oleh pergaulan, dan membawa jiwa-jiwa kembali kepada Tuhan melalui pemuridan.
- Bukan Panitia Kedatangan, melainkan Tim Penyambut: Orang percaya tidak ditetapkan untuk sibuk menebak-nebak tanggal atau menjadi “panitia” kapan Yesus akan datang kembali. Panggilan utamanya adalah menjadi “tim penyambut” yang selalu hidup dalam kesiapan (standby) kapan pun saat itu tiba. Kesiapan ini diwujudkan dengan menjaga komitmen ibadah, tekun membaca Alkitab, serta berfokus pada nilai-nilai kekekalan daripada hal duniawi yang sementara.
Marilah kita mempersiapkan hidup secara cerdas dengan melembutkan hati layaknya tanah liat yang siap dibentuk oleh Tuhan sang penjunan. Kedatangan Tuhan adalah sebuah kepastian, baik yang bersifat universal maupun pribadi. Sehingga hidup dalam pertobatan, kepenuhan Roh Kudus, dan kesetiaan yang bernyala-nyala adalah kunci utama bagi setiap orang percaya untuk menyambut Sang Raja.
