Pdt. Djonny Wongkar | Ibadah Raya | Minggu, 12 Januari 2020
Pentingnya Pertemuan Ibadah Bersama
Ibrani 10:19-25 (TJB)
19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,
20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,
21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.
22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.
24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.
25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
Merujuk pada kitab Ibrani 10:25, firman Tuhan dengan tegas mengingatkan, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” Kata “pertemuan ibadah” dalam bahasa aslinya menggunakan istilah “Epi-synagoge“, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “a gathering together in one place/room” (berkumpul bersama di satu tempat atau ruangan). Sebagai umat Kristen yang telah ditebus oleh darah Yesus, sudah seharusnya kita memiliki antusiasme yang tinggi untuk datang bersekutu di rumah Tuhan.
Marilah kita berkaca pada semangat saudara-saudara kita dengan kepercayaan yang lain, yang begitu disiplin dan antusias beribadah. Sebaliknya, seringkali umat Kristen justru kurang disiplin, sering terlambat, atau absen beribadah hari Minggu dengan berbagai alasan seperti hujan, banjir, atau masalah hidup. Jika untuk urusan duniawi dan pekerjaan kita bisa sangat disiplin karena takut kepada atasan, mengapa untuk menghadap Raja di atas segala raja kita sering kali tidak disiplin?
Ibadah Sebagai Latihan Rohani
1 Timotius 4:8 (TJB)
Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.
Berdasarkan firman di atas, kita diingatkan untuk melatih diri beribadah. Latihan badani memang terbatas gunanya, tetapi ibadah berguna dalam segala hal karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Gathering together atau bersekutu bersama di gereja adalah sebuah bentuk latihan diri. Melatih diri dalam ibadah di dunia ini merupakan persiapan dan wujud nyata dari apa yang akan kita lakukan di surga kelak. Apa yang kita ikat di dunia akan terikat di surga. Oleh karena itu, jika kita malas beribadah di dunia, bagaimana kita bisa siap untuk hidup di surga yang dipenuhi dengan ibadah dan penyembahan kepada Tuhan?
Penyembahan yang Mengubah Suasana
Ketika kita datang beribadah, kita diundang untuk menyembah Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita. Tuhan bertakhta di atas pujian dan penyembahan umat-Nya. Pujian yang sungguh-sungguh bukan sekadar rutinitas, melainkan momen di mana kehadiran Tuhan menjamah dan memulihkan kita, melepaskan segala beban serta air mata, dan mengingatkan kita akan pengorbanan-Nya yang luar biasa bagi kita yang berdosa.
Janji Berkat di Balik Ketaatan
Memang benar bahwa kemurnian ibadah kita tidak boleh didasarkan atas motivasi materi atau sekadar mencari berkat. Kita harus belajar memberi dan menyembah Tuhan dengan tulus tanpa pamrih, seperti kasih seorang ibu yang tak mengharap kembali.
Namun, firman Tuhan dalam Keluaran 23:25 dan Maleakhi 3:10 memberikan aksioma atau hukum ketetapan yang pasti: ketika kita setia beribadah dan membawa persembahan kita ke rumah Tuhan, Dia berjanji akan memberkati roti makanan kita, air minuman kita, menjauhkan penyakit dari tengah-tengah kita, bahkan membuka tingkap-tingkap langit untuk mencurahkan berkat sampai berkelimpahan. Tuhan senantiasa menjelajah bumi untuk mencari orang-orang yang setia demi menyatakan kuasa-Nya.
Keluaran 23:25 (TJB)
Tetapi kamu harus beribadah kepada Tuhan, Allahmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu.
Maleakhi 3:10 (TJB)
Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
Mari kita salibkan segala keinginan daging dan kemalasan kita. Jangan lagi menjauhkan diri dari persekutuan tubuh Kristus. Biarlah setiap hari Minggu menjadi momentum yang kita rindukan untuk datang lebih awal, memberikan pujian terbaik, dan mempersembahkan hidup kita sebagai ibadah yang sejati bagi kemuliaan nama Tuhan. Amin.
