Pdt. Paulus Pujianto, M.Th | Ibadah Raya | Minggu, 21 Juni 2026
Roma 12:11 (TJB)
Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Setiap orang tentu mengalami musim kehidupan yang berbeda-beda. Di era modern ini, kita berhadapan dengan dinamika dan tantangan yang tidak mudah, mulai dari ketidakpastian global, krisis ekonomi, hingga pergumulan kesehatan pribadi. Situasi-situasi ini sering kali membuat grafik semangat kita naik-turun. Kita mungkin dipenuhi iman dan sukacita hari ini, tetapi esok hari mendadak lesu saat diperhadapkan pada realita yang menekan. Melalui khotbah ini, kita diingatkan untuk tidak membiarkan kerajinan kita menjadi kendor, melainkan terus mempertahankan kegairahan rohani sepanjang masa.
Mengapa Penting Menjaga Kegairahan Sepanjang Masa?
Tuhan tidak menginginkan kita menjadi jemaat yang biasa-biasa saja atau sekadar mengikuti rutinitas absensi ibadah. Yang Tuhan nilai adalah bobot kualitas manusia batiniah kita. Semangat rohani sangat krusial karena:
- Membangkitkan Energi dan Ketahanan Hidup: Berdasarkan Amsal 18:14, orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya. Semangat bertindak laksana bahan bakar kehidupan; ia memberi daya juang untuk mencari solusi di tengah tekanan dan bangkit setelah jatuh. Kita bisa belajar dari Kaleb (Yosua 14:10-11) yang pada usia 85 tahun masih memiliki kegairahan, iman, dan kekuatan perang yang sama seperti saat ia berusia 40 tahun. Usia boleh bertambah, fisik bisa menurun, tetapi roh tidak boleh padam.
- Membawa Pengaruh Positif bagi Orang Lain: Sifat kegairahan rohani itu menular (Matius 5:16). Ketika kita berdiri teguh dengan iman yang on-fire, orang-orang di sekitar kita akan ikut terinspirasi, dikuatkan, dan diubahkan.
Tiga Kunci Menjaga Roh Tetap Menyala-Nyala
Agar api kerajinan kita tidak meredup di tengah jalan, ada tiga tindakan protektif yang wajib kita terapkan:
- Jaga Hati: Alkitab memesankan agar kita menjaga hati dengan segala kewaspadaan (Amsal 4:23). Filterlah hati kita dari “sampah-sampah kehidupan” seperti kekecewaan, perkataan tajam, atau penilaian buruk orang lain. Ingatlah bahwa apa yang dilakukan orang lain berada di luar kontrol kita, tetapi cara kita merespon situasi sepenuhnya ada di bawah kendali kita. Jangan beri celah bagi iblis untuk memadamkan pelayanan kita melalui rasa kecewa.
- Jaga Cinta Mula-mula: Tuhan memberikan teguran keras kepada jemaat yang meninggalkan kasihnya yang semula (Wahyu 2:4). Di mana ada cinta, di situ ada kegairahan. Jika kita melayani tanpa kasih, segala sesuatu akan terasa seperti beban yang berat. Kunci mempertahankan cinta mula-mula ini tidak lain adalah relasi persekutuan yang intim (intimacy) dengan Tuhan melalui doa, penyembahan, dan membaca Firman secara konsisten.
- Ingat bahwa Kita Berharga & Dikasihi Tuhan: Banyak orang kehilangan semangat karena merasa tidak dihargai oleh dunia. Padahal, Yesaya 43:4a menegaskan bahwa kita sangat berharga dan mulia di mata Tuhan. Bukti kasih-Nya pun sudah final melalui pengorbanan Yesus di kayu salib (Roma 8:32). Mengingat betapa berharganya diri kita bagi Pencipta adalah penangkal utama dari rasa lesu dan tawar hati.
Mari kita periksa bobot kerohanian kita masing-masing. Jangan biarkan kelelahan fisik maupun luka kekecewaan membuat kita mundur dari hadirat Tuhan. Tetaplah setia hadir beribadah dari minggu ke minggu, layanilah Tuhan dengan kasih tanpa pamrih, dan biarlah roh kita terus menyala-nyala menjadi terang bagi sesama sampai Tuhan datang kembali.
