Pdt. Paulus Pujianto, M.Th | Ibadah Raya | Minggu, 19 Juli 2026
Setiap gereja dan orang percaya merindukan terjadinya kebangunan rohani (revival). Ketika mendengar kata revival, bayangan kita sering kali tertuju pada puji-pujian yang bergelora, bangku gereja yang dipenuhi jemaat, mukjizat yang terjadi di mana-mana, serta ribuan jiwa yang mengambil keputusan bertobat di Altar. Hal-hal tersebut tentu sangat indah. Namun, jika kebangunan rohani berhenti hanya pada pertobatan awal dan tidak berlanjut pada proses pembentukan murid, maka tujuan Allah yang sejati belum tercapai sepenuhnya.
Matius 28:19-20 (TJB)
19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Tujuan Allah menyelamatkan manusia adalah untuk memulihkan kembali gambar diri-Nya yang rusak akibat dosa, sehingga manusia dapat menjadi serupa dengan Kristus. Karena itu, perintah utama Amanat Agung bukanlah sekadar mengumpulkan orang percaya, melainkan mencetak murid-murid Kristus yang dewasa secara rohani.
Mengapa Perlu Revival dalam Pemuridan?
Ada tiga alasan fundamental mengapa kebangunan rohani dalam aspek pemuridan merupakan prioritas mendesak bagi jemaat saat ini:
1. Karena Itulah Inti dari Amanat Agung
Dalam bahasa asli teks Matius 28:19–20, penekanan perintah utama terletak pada kata “jadikanlah murid“. Pergi, membaptis, dan mengajar adalah bagian dari proses menuju satu tujuan utama, yaitu melahirkan seorang murid.
Terdapat perbedaan besar antara sekadar menjadi “orang percaya” dengan menjadi seorang “murid Kristus”:
| Aspek | Orang Percaya | Murid Kristus |
| Fokus & Orientasi | Berorientasi pada diri sendiri & kebutuhan pribadi. | Berorientasi pada kehendak Kristus & Kerajaan Allah. |
| Motivasi Mencari Tuhan | Mencari mukjizat, berkat, dan jalan keluar masalah. | Mencari Tuhan karena mengasihi-Nya & ingin mengenal-Nya. |
| Respon Terhadap Tantangan | Mudahs mundur ketika harus memikul salib. | Setia mengikut Kristus dalam segala musim kehidupan. |
| Sikap Terhadap Pelayanan | “Tuhan, berkatilah dan tolonglah aku.” | “Tuhan, ini aku, pakailah hidupku.” |
“Pertobatan adalah kelahiran rohani, sedangkan pemuridan adalah pertumbuhan rohani. Gereja yang hanya melahirkan tanpa membesarkan akan menghasilkan bayi-bayi rohani yang tidak pernah dewasa.”
2. Gereja Hari Ini Adalah Hasil dari Estafet Pemuridan
Iman Kristen yang kita nikmati hari ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari tongkat estafet yang diteruskan selama lebih dari 2.000 tahun tanpa terputus (2 Timotius 2:2).
Terlihat ada empat generasi estafet iman: Paulus -> Timotius -> Orang yang dapat dipercayai -> Orang lain lagi.
Kemenangan dalam perlombaan estafet tidak ditentukan oleh seberapa cepat pelari pertama berlari, melainkan oleh keberhasilan penyerahan tongkat estafet. Hari ini, tongkat estafet Injil ada di tangan kita. Pertanyaannya: apakah tongkat itu berhenti di diri kita, ataukah kita persiapkan generasi penerus untuk menerimanya?
3. Generasi Berikutnya Membutuhkan Iman yang Kokoh
Generasi mendatang menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Tanpa dasar pemuridan yang kuat, nilai-nilai iman mudah tergerus oleh arus dunia. Pemuridan membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kebenaran, serta meneguhkan identitas sejati orang percaya sebagai terang dan garam dunia.
Memahami Perbedaan Kasela, Pemuridan, dan Bible Study
Agar proses pertumbuhan rohani dapat berjalan dengan efektif, jemaat perlu memahami perbedaan fungsi dari wadah pelayanan yang ada di gereja:
- Kasela / Komsel (Kawan Sekerja Allah): Berfungsi sebagai jembatan untuk menjangkau jiwa-jiwa baru dan memperkenalkan mereka pada komunitas gereja (Outreach).
- Pemuridan: Wadah untuk mendidik, membina, dan membentuk orang percaya agar mengalami perubahan hidup (Transformation) hingga memiliki karakter Kristus.
- Bible Study (Pendalaman Alkitab): Wadah untuk memperkaya pengetahuan akan kebenaran (Knowledge & Doctrine) agar orang percaya tidak diombang-ambingkan oleh ajaran palsu.
Bagaimana Revival Dalam Pemuridan Dapat Terjadi?
- Mulai dengan Mengikut Yesus Secara Pribadi (Matius 4:19)
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Urutannya jelas: kita harus menjadi pengikut Yesus yang hidupnya diubahkan terlebih dahulu sebelum dapat memenangkan dan membimbing orang lain. - Hidup Secara Sengaja (Purposely) Membangun Orang Lain
Yesus mengajar kerumunan banyak orang, tetapi Ia secara khusus menginvestasikan waktu-Nya untuk membimbing 12 murid secara dekat. Pemuridan membutuhkan relasi mendalam, mau duduk bersama, mendengarkan pergumulan, mendampingi, dan mendoakan satu sama lain secara personal. - Setiap Murid Mengambil Bagian Menjadi Pembuat Murid (Disciple Maker)
Pemuridan bukanlah tugas eksklusif gembala atau pengerja gereja semata, melainkan panggilan bagi setiap anggota jemaat. Jangan pernah meremehkan dampak dari satu jiwa. Sejarah mencatat bagaimana seorang guru sekolah minggu bernama Edward Kimball memuridkan seorang pemuda toko sepatu bernama D.L. Moody, yang kelak membawa jutaan jiwa kepada Kristus dan mempengaruhi generasi penginjil besar seperti Billy Graham.
Revival dalam pemuridan adalah kunci utama bagi gereja agar dapat bertumbuh secara sehat, berdampak nyata bagi lingkungan, dan berkelanjutan dari generasi ke generasi. Mari kita mengambil komitmen untuk tidak sekadar menjadi penonton atau jemaat pasif, melainkan bersedia dimuridkan dan mulai memuridkan orang lain, dimulai dari keluarga, sahabat, dan komunitas di sekitar kita.
